Sabtu, 02 Februari 2013

: JAGAT KECANTIKAN ITU KAMU ::

Keindahanmu,
Tak bisa dilukiskan
Kecantikanmu,
Juga tak bisa diceritakan

Kamu lebih indah dari lukisan
Bahkan dari lukisan yang dilukis selama sepuluh tahun, Joconde
Penuh misteri keanggunan
Bahkan lebih indah dari panorama alam
Penuh harmoni keajekan

Kecantikanmu melebihi perempuan-perempuan legenda
Lebih mempesona dari Helene
Karena kecantikannya perang Troya terjadi
Lebih memukau dari Pitaloka
Kecantikannya menjadikan Majapahit berperang dengan Pajajaran
Lebih menawan dari Drupadi
Kecantikannya mengharuskan Arjuna terlibat beberapa pertarungan

Haruskah Aku melukiskan keindahanmu?
Sehingga orang-orang menggunjing misteri keanggunanmu
Haruskah Aku menceritakan kecantikanmu?
Sehingga orang-orang memperebutkanmu

Tidak!
Aku benci pergunjingan
Aku tidak menyukai pertarungan
Apalagi peperangan

Aku hanya ingin mencintaimu
Seperti cinta seorang Rasul
Aku hanya ingin mengasihimu
Seperti kasih seorang Messiah
Aku hanya ingin menyayangimu
Seperti rasa sayang seorang Sidharta
Dan, Aku sudah menggilaimu
Seperti kegilaan seorang Sufi

~proud to: my tia lovely~

Jumat, 01 Februari 2013

Autumn in Paris

“Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya.
Aku tidak akan melupakan dirinya, tetapi aku harus melupakan perasaanku padanya walaupun itu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku mencoba melakukannya.
Pasti butuh waktu lama sebelum aku bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang aku rasakan setiap kali aku melihatnya.
Mungkin suatu hari nanti – aku tidak tahu kapan – rasa sakit ini akan hilang dan saat itu kami baru akan bertemu kembali.”
Autumn In Paris, Ilana Tan

one and only

Menjadi Tawanan Hatimu ::

 

Manusia di belahan bumi mana  pun, 

tentu tidak ingin kebebasannya tumpas.

juga tidak ingin kebahagiaannya terampas.

Manusia di belahan bumi mana pun, 

tentu menginginkan kebebasannya utuh. 

Juga mendapatkan kebahagiaan penuh.

Namun, seringkali manusia dihadapkan pada dua pilihan, 

kebebasan utuh tanpa kebahagiaan penuh; 

atau kebahagiaan penuh tanpa kebebasan utuh.

Tentu, pilihan-pilihan itu lebih getir dari  buah simalakama. 

Tapi manusia harus memilih. Tanpa mengolah dan mimilah. 

Pilihan adalah risiko itu sendiri.

Bukankah manusia adalah tawanan kehidupan? Begitu pula 

diriku, tawanan hatimu. Lebih tepatnya, tertawan di hatimu. 

Atau lebih tepatnya lagi, menyerahkan diri menjadi tawanan hatimu.

Manusia harus memilih. Dan aku telah memilih. Ya, 

memilih menjadi tawanan hatimu. Menyerahkan diri menjadi tawanan 

kepada kamu yang sungguh menawan.

~proud to: my tia lovely~