Kamis, 11 September 2014

Malam, terkadang jadi sahabat paling baik. Tapi tak jarang menjadi musuh paling membuatku benci. Di setiap malam aku menghabiskan waktu, menutup hari yang berat dan menanti hari esok dengan asa. Bersama malam pula aku merasa kesakitan, ketersiksaan yang hanya aku yang merasakannya. Kerinduan. Kerinduan yang teramat dalam menghujam ke jantungku.
Rindu itu membuat aku tak berdaya, menangis sepanjang malam. Merintih menahan sakitnya. Rindu yang tak pernah berujung, tak akan pernah. Merindukannya adalah kebahagiaanku sekaligus penyiksaan untukku. Bahagia aku masih mencintainya, masih punya kasih sayang yang tulus untuknya. Tapi penyiksaan karena kau tak akan pernah bisa melepaskan rindu itu secara nyata, secara gamblang.
Ketika airmata tumpah, aku berdoa.
Ketika tangis tak kunjung berhenti, aku berdoa.
Ketika rindu membara, aku berdoa.
Untuknya aku berdoa,
Doa yang sama.
Doa yang tak pernah berhenti.
Doa yang tulus.
Doa yang menjadi penawar rindu.
Padanya aku merindu.
Ini yang aku namakan rindu sebatas doa, rindu yang hanya terobati dengan doa. Rindu yang akan semakin dalam karena selalu kubawa dalam doa-doaku. Rinduku sebatas doa, tapi bukan berarti aku akan berhenti merindu ketika aku sedang tak berdoa. Bukan pula berarti aku berdoa saat aku merindu. Tapi untuk tetap menjaga kasihku, untuk menjadi kuat hidup bersama rindu ini, untuk tetap merindu, dan untuk tetap berdoa.
“Sampaikan rinduku padanya, rindu yang tak berkesudahan, rindu yang perlahan merapuhkan hatiku, tapi di saat yang sama juga menguatkan aku. Aku tak pernah menyesal berpisah dengannya, hanya saja waktu yang kurasa tak tepat. Tapi aku tau, bagi-Mu, ini yang paling tepat untuk aku belajar untuk tetap merindukannya dalam doaku. Dan hidup di jalan-Mu”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar